Searcing Area

Sabtu, 22 Mei 2010

Believe It Or Not - "Nyawa Tiruan Berhasil Diciptakan"

WASHINGTON -- Terobosan baru ilmiah dilakukan ahli biologi berkewarganegaraan Amerika Serikat. Craig Venter berhasil menciptakan "kehidupan tiruan" untuk kali pertama di laboratoriumnya. Meski begitu, sang ilmuwan dalam penjelasannya Jumat 21 Mei kemarin, menyangkal bahwa dirinya mempermainkan Tuhan dengan karyanya itu.
Penciptaan sel sintetik yang digambarkan sebagai sebuah tonggak bersejarah dalam ilmu pengetahuan oleh seorang ahli asal Inggris itu, merupakan mimpi yang menjadi kenyataan dari penelitian yang berlangsung selama 15 tahun oleh genetik entrepreneur, Dr Venter.

Para peneliti yang bekerja untuk membuat kehidupan sintetis melaporkan mereka berhasil membuat genom buatan untuk menghidupkan bakteri buatan. Mereka berharap dapat menggunakan versi penghidupan bakteri ini untuk mempelajari bagaimana merancang mikroba yang diproduksi sendiri.

Dia mengembuskan nyawa ke tubuh bakteri menggunakan gen yang disatukan melalui proses di laboratorium dalam sebuah konsep pengembangan dengan tujuan utama membuat organisme material genetik. Termasuk di dalamnya, pembuatan organisme tiruan yang didesain untuk tugas-tugas khusus seperti membuat vaksin atau membersihkan polusi.

Peneliti memang tidak menyebutkan telah membuat bentuk kehidupan sintesis secara lengkap. Namun percobaan ini telah menimbulkan beberapa tanggapan yang dramatis.

Misalnya, beberapa ahli melihat adanya potensi bahaya dalam temuan tersebut. Misalnya, nyawa sintetik bisa disalahgunakan untuk membuat senjata biologis, bahkan Presiden AS Barack Obama meminta penasihat bioetik untuk melaporkan implikasi ini.

Berbicara dalam program BBC2 News Night di Washington, Venter membantah tuduhan bahwa dirinya telah mempermainkan Tuhan.

"Tuduhan itu selalu muncul setiap kali muncul terobosan baru di dunia medis atau ilmu pengetahuan yang terkait dengan biologi. (Penelitian) ini mempunyai tujuan kemanusiaan untuk mengontrol sifat alam. Itu sama seperti bagaimana kita menjinakkan hewan," katanya.

"Ini adalah tingkat lebih tinggi dari pemahaman kita. Ini adalah tahap di mana kita bisa mulai memahami bagaimana kehidupan itu bekerja dan mungkin juga bagaimana kita bisa mengontrol sistem mikrobiologi untuk kepentingan kemanusiaan," tambahnya seperti dilansir Telegraph, Jumat 21 Mei.

Saat ditanya bahwa teknik baru tersebut bisa dibeli oleh pemilik modal besar, Venter menjawab bahwa teknologi tidak untuk diperjualbelikan. "Kami berupaya mengembangkan teknologi ini untuk memajukan bidang perlindungan vaksin. Kami akan menggunakannya untuk mengembangkan pemahaman dasar dari kehidupan sel," jelasnya.

Venter juga menyangkal kekhawatiran sejumlah pihak bahwa teknologi itu akan digunakan sebagai bio terorisme. "Sebagian orang sepakat bahwa ada potensi yang berkembang, bahwa teknologi bisa digunakan untuk kekerasan. Tapi ada juga yang meyakini jika pengembangan ini sangat berpotensi untuk membantu kehidupan manusia," paparnya.

“Prestasi Venter tampaknya dapat memadamkan argumen bahwa kehidupan membutuhkan kekuatan khusus atau kekuatan untuk ada. Dalam pandangan saya, ini merupakan salah satu prestasi ilmiah paling penting dalam sejarah umat manusia," tulis ahli bioetik Arthur Caplan dari University of Pennsylvania dalam sebuah komentar di jurnal Nature.

"Pencapaian mereka merusak kepercayaan mendasar tentang hakikat kehidupan yang mungkin untuk membuktikan betapa penting melihat diri kita dan tempat kita di alam semesta seperti penemuan Galileo, Copernicus, Darwin dan Einstein."

Jim Collins, seorang profesor teknik biomedis di Boston University, bersengketa soal ini. "Terus terang, para ilmuwan tidak cukup tahu tentang biologi untuk menciptakan kehidupan," tulis Collins di Nature.

"Pekerjaan yang dilaporkan oleh Venter dan koleganya adalah suatu kemajuan penting dalam membentuk ulang organisme, ini bukanlah mewakili bahwa mereka telah membuat kehidupan baru dari awal."


(dikutip dari Fajar Metro News)

Jumat, 21 Mei 2010

Uang Pecahan Rp10.000 Siap Dikeluarkan


Indonesia akan mengeluarkan uang pecahan baru dengan nominal Rp. 10.000,-. Rencananya uang baru ini akan dibuat 500 juta lembar pada tahap pertama tanggal 1 Juni nanti. Bank Indonesia mengeluarkan pecahan Rp.10.000,- baru ini salah satunya dikarenakan kemiripan warna dengan Rp.100.000,- yang sering tertukar. Maka dari itu, Bank Indonesia mengeluarkan dengan warna yang berbeda. Bedanya pada Rp. 10.000,- dulu, warnanya merah keunguan dan yang baru warnanya berubah menjadi biru muda.
Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Rochadi, perubahan desain tersebut agar masyarakat tidak keliru membedakan uang Rp 10.000 dengan Rp 100 ribu. Untuk tahap awal, BI akan mencetak lebih dari 500 juta lembar. "Secepatnya akan kita cetak yang baru," kata Budi di BI Jakarta Rabu 23 Desember 2009.

BI juga akan mencetak uang koin baru nominal Rp 1.000. Rencananya koin Rp 1.000 itu akan menggantikan uang kertas Rp 1.000. Namun penarikan terhadap uang kertas belum dilakukan, menunggu kebutuhan dari masyarakat. "Sementara ini kita masih sejajar, uang koin ada uang kertas masih ada, tapi nantinya akan ada penarikan uang kertas Rp 1.000 sedikti demi sedikit," jelasnya.

Keuntungan mencetak uang logam meski biayanya lebih mahal dibanding uang kertas adalah uang logam lima kali lipat lebih awet.

Sebelumnya Deputi Direktur Direktorat Pengedaran Uang BI Yopie D Alimudin mengatakan selama ini sirkulasi uang logam jarang kembali ke BI. Mencetak uang koin biayanya lebih mahal dibanding uang kertas. "Kita harapkan usia edarnya lama, namun hilangnya
di masyarakat menjadi lebih mahal," katanya kepada VIVAnews di Jakarta Selasa 22 Desember 2009.

Yopie mencontohkan untuk uang koin Rp 100, mempunyai nilai intrinsik Rp 74. Namun untuk uang koin Rp 1.000, nilai intrinsiknya Rp 300. Sementara untuk uang kertas, paling mahal adalah Rp 100.000 yang nilai intrinsiknya Rp 1.000.

ini dia uang 10.000 kita dari masa ke masa